Segalanya
terasa sangat berbeda sejak kejadian itu, kejadian yang membuat sebuah
perubahan hidup yang amat besar. Kecelakaan itu membuat Aidi lebih banyak diam
dari pada berkomentar apa-apa, kecelakaan yang membuat gigi depannya
menghilang. Aidi menangis seharian karna hal tersebut.
“aku
tak akan mendapat pasangan untuk pesta dansa akhir tahun nanti” katanya terus
sambil menagis
“tidak
akan ada cewek yang mau bertemu denganku setelah ini” ujarnya lagi
“mum………
haaaaa…..” teriaknya di tengah tangisannya.
Aidi
jadi lebih banyak diam jadinya, ia hanya diam saja jika ada yang
menertawakannya saat ia berjalan. Mereka menertawakan giginya, walaupun Aidi
tak membuka mulutnya untuk membuat mereka tau kalau gigi Aidi memiliki keanehan,
sudah cukup untuk Aidi tersiksa dengan giginya yang ompong, dia putuskan untuk
tidak berbicara pada siapapun sejak hal itu. Aidi hanya diam jika tak ada
pertanyaan yang mengharuskan ia berbicara dan menutup mulutnya saat akan
berbicara. Sebenarnya bisa saja Aidi menggunakan gigi palsu untuk mengganti
giginya itu tapi nyalinya terlalu kecil untu menuju dokter gigi. Aidi tau tak
ada yang bisa membuatnya tampak lebih baik, sekalipun itu ibunya Mrs. Respite
sudah mengusahakan untuk membujuk Aidi pergi ke dokter gigi untuk mengganti
giginya yang hilang itu, namun tetap saja Aidi tidak mau pergi ke sana.
∞∞∞
Aidi
bangun pagi hari ini, ada pelajaran Sains di jam pertama. Dan ia tak mau
terlambat karenanya, ia tau Mr.Kidd akan marah kalau ia benar-benar terlambat.
Sekolah
terasa sangat sepi begitu Aidi masuk, tidak ada sama sekali murid disini yang
ada hanya Mr.Welsy, penjaga sekolah, yang membersihkan koridor. Ia menyapa Aidi
dengan ramah saat Aidi masuk, tentu saja yang Aidi bisa lakukan hanya tersenyum,
karna ia tak mau memperlihatkan giginya yang hilang itu. Aidi masuk kedalam
kelasnya melihat kalau saja ia bisa duduk di bagian depan kali ini, mengingat
ia tak pernah dapat posisi depan setiap harinya karna ia selalu datang
terlambat. Entah hanya mimpi atau tidak, ia melihat ada seseorang cewek sedang
duduk sambil membaca buku di meja paling depan. Aidi diam diambang pintu,
dilihatnya gadis itu tersenyum kearahnya sambil berkata “Hai…” , Aidi masih
diam saja, ia serasa melihat seorang bidadari disitu karna cewek itu sangat
cantik.
“kau
kenapa?” Tanya cewek itu takut-takut, mungkin ia mengira Aidi sedang tidak
waras. Aidi masih saja diam, ia tak mengatakan sepatah katapun.
“hei…
aku sedang berbicara denganmu tolol” katanya agak keras kali ini, ia lalu
menghadap kembali ke bukunya dan tidak memperdulikan Aidi. Aidi baru sadar
kalau ia tidak bermimpi, cewek itu benar-benar manusia.
“er…
maaf, apa katamu tadi?” Tanya Aidi memberanikan diri
“oh,
ternyata kau bisa bicara yah?”
“kurasa
begitu” kata Aidi, cewek itu melongi melihat gigi Aidi yang hilang, ia menahan
tawanya, tapi Aidi melarangnya.
“tak apa, tertawa saja” katanya, cewek itu tertawa untuk waktu yang cukup lama, lalu
ia berhenti ketika menyadari Aidi menunjukan ekspresi wajah yang menunjukan
kalau ia suh terbiasa dihina. Cewek itu merasa bersalah,
“er…
maafkan aku, aku memang gampang tertawa” katanya
“tak apa, aku sudah biasa” jawab Aidi
“kau
masih mau berdiri di situ atau mau duduk untuk berkenalan denganku?” Tanya
cewek itu sambil tersenyum, akhirnya Aidi menuruti apa yang dikatakan cewek
itu, ia berjalan menuju bangku disampingnya.
“namaku
Nuta” kata cewek itu yang mengaku namanya Nuta, sambil menjabat tangan Aidi
“Aidi”
kata singkat, ia melihat ada senyum di bibir Nuta. Ia adalah seorang cewek yang
berperawakan tinggi, berkulit kuning langsat, berambut agak bergelombang,
beralis tebal, dan senyum yang menawan. Aidi belum pernah melihat seorang cewek
seperti Nuta ini yang mau berteman dengan cowok yang bergigi ompong seperti
Aidi.
“aku
murid pindahan Aidi” katanya saat selang beberapa lama mereka berbicara
“ayahku
memindahkan aku dari sekolah lamaku karna ayah ada tugas didaerah sekitar sini,
yah, aku harap aku akan mendapatkan teman banyak di sini” katanya lagi
“kau
pasti mendapat teman banyak, aku suka caramu berbicara, Nuta”
“yeah…
aku rasa aku memang suka berbicara, atau mungkin terlalu banyak yah?” katanya
lagi, lalu terdengar gelak tawa Aidi dan Nuta.
Kelas
mulai ramai, karna waktu memang telah menunjukan jam 09.00, waktunya memulai
kelas, tapi Mr.Kidd masih belum datang juga.
“wah…wah…wah…
tampaknya si ompong Aidi, mendapatkan teman baru dikelas” kata Robin, musuh
bebuyutan Aidi dari kelas satu – mereka telah mengibarkan bendera perang dari
kelas satu, baik sebelum Aidi kehilangan
gigi sampai sekarang –
“tutup
mulutmu yang bau itu Robin” gumam Aidi
“bicara
yang keras Aidi, atau kau tak mau teman-temanmu tertawa meliahat gigimu yang
ompong itu?” kata Robin dengan keras, semua anak di kelas tertawa karenanya.
“TUTUP
MULUTMU YANG BAU ITU ROBIN, AKU YAKIN AYAHMU LUPA MEMBELIKANMU ODOL PAGI INI,
APA KAU TAK PERNAH SADAR KALAU MULUTMU SELALU BAU SETIAP PAGI?” kata Aidi
sambil berteriak, Robin terperangah mendengar ucapan Aidi yang menurutnya
sangat berani itu, seluruh kelas tertwa sekali lagi
“beraninya
kau….” Belum sempat Robin melanjutkan kata katanya terdengar derup langkah
Mr.Kidd dari luar -- Mr.Kidd memakai sepatu boat, dan itu menjadi cirri
khasnya—
Semua
murid kembali ke bangkunya masing-masing
“Urusan
kita belum selesai Ompong” bisik Robin pada Aidi, Sengit
“akan
ku tunggu Mulut bau” jawab Aidi tak kalah sengit.
Mr.Kidd
memakai kemeja kotak-kotak berwarna Hitam, ia berperawakan tinggi, putih dan
selalu tersenyum. Ia menatap satu persatu siswanya sambil tersenyum
“Morning
class…” sapanya sambil terus tersenyum
“Morning,
Sir”
“baik,
perkenalkan nama saya Mr.Kidd Mad, saya guru Sains kalian di kelas 3 ini. Saya
memperkenalkan diri karna saya lihat ada murid baru di sebelah Aidi. Bisakah
kau perkenalkan dirimu nona manis?” kata Mr.Kidd sambil tersenyum pada Nuta,
Nuta tersenyum, lalu berdiri maju kedepan
“Morning
guys…” sapanya
“Morning”
terdengar jawaban dari seluruh kelas
“Perkenalkan,
nama saya Nuta Layne Tompkins. Saya pindahan dari Fillter City, saya tinggal
bersama orang tua saya di Kingdom Place…” -- Aidi tersentak, karna itu adalah
tempat tinggalnya juga – “… Semoga kalian semua mau berteman dengan saya.
Terimakasih” katanya
kemudian, semua anak setuju dengan ucapan Nuta, ia kembali duduk.
“yah…
semoga kau betah di sini Nuta, senang rasanya melihat murid baru yang cantik
sepertimu” celetuk Mr.Kidd kemudian, semua anak-anak tertawa. Begitu juga
dengan Nuta sendiri.
Pelajaran
Mr.Kidd berjalan seperti biasa, menyenangkan dan agak tegang. Tapi Aidi sangat
menyukainya, karna Mr.Kidd sangat menyenangkan.
“kau
ada kelas lagi Aidi setelah istirahan makan siang Aidi?” Tanya Nuta saat akan
istirahat makan siang
“tidak
juga, setelah istirahat langsung tidak ada. Tapi kalau kau Tanya setelah
istirahat, aku ada”
“bagus,
kalau begitu. Aku juga tidak ada, jadi kau bisa temaniku berkeliling bukan?”
“yeah…
kurasa bisa”
“ayo
pergi ke kantin?”
“ayo”
_____
to be continue.....

Komentar
Posting Komentar